Dampak Minyak Bumi Terhadap Lingkungan

Dampak Minyak Bumi Terhadap Lingkungan – 3 MINYAK PEMBAKARAN PEMBAKARAN SANGAT BAIK Hidrokarbon akan bereaksi dengan oksigen membentuk CO 2 dan air. Jika bahan bakar mengandung sulfur/nitrogen besi, pembakaran sempurna akan menghasilkan nitrogen dioksida, sulfur dioksida. CxHy + O2 —> CO2 + H2O PEMBAKARAN Tidak Sempurna Hidrokarbon akan bereaksi dengan oksigen membentuk gas karbon monoksida dan air, serta berbagai senyawa lain seperti nitrogen oksida. CxHy + O2 —> CO + H2O

5 Kotoran bahan bakar Aditif Karbon dioksida (CO2) Karbon monoksida (CO) Sulfur oksida (SO2 dan SO3) Nitrogen oksida (NO dan NO2)

Dampak Minyak Bumi Terhadap Lingkungan

8 EFEK LINGKUNGAN DAN KESEHATAN TANPA SUMBER PENCEMARAN 1. CO 2 Pembakaran sempurna minyak, batu bara dan gas alam. Efek rumah kaca dan pemanasan global 2.CO Pembakaran tidak sempurna minyak dan batubara bersifat racun dan dapat mengikat hemoglobin (Hb) dalam darah. Gas CO dapat menyebabkan kematian jika konsentrasi CO di udara mencapai 0,1% 3.NO x (NO DAN NO 2) Membakar bahan bakar pada suhu tinggi dimana udara teroksidasi. Kabut asap (smog) yang dapat mengiritasi mata dan pernafasan serta tanaman layu. . Jika gas NO2 terhirup, dapat menyebabkan kanker dan kematian.

Pembakaran Hidrokarbon Worksheet

9 4.SO x (SO dan SO 2 ) Pembakaran bahan bakar yang mengandung senyawa belerang Hujan asam yang dapat merusak tanaman dan menyebabkan gangguan pernafasan. Korosif, sehingga dapat merusak material dinding bangunan terutama yang mengandung karbonat. 5. Partikel Pb Penggunaan bensin yang mengandung aditif senyawa timbal. Timbal bersifat racun dan dapat menyebabkan sakit kepala (vertigo), anemia, dan bahkan kerusakan otak. Dalam jangka panjang dapat menyebabkan kanker dan penyakit lainnya.

11 1. Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara dan menggantinya dengan sumber energi alternatif 2. Membatasi penggunaan kendaraan bermotor

12 3. Penggunaan bahan bakar ramah lingkungan 4. Penerapan standar uji emisi kendaraan dan pembersihan gas sisa hasil pembakaran bahan bakar minyak pada kendaraan bermotor menggunakan catalytic converter

13 5. Menempatkan industri jauh dari pemukiman dan memerlukan penggunaan cerobong tinggi dan pemasangan filter gas di cerobong pabrik 6. Penghijauan dan repopulasi, terutama di daerah perkotaan yang dapat menyerap polutan, seperti Angsana

Tumpahan Minyak, Dampak Dan Upaya Penanggulangannya

Agar situs web ini berfungsi, kami merekam data pengguna dan membagikannya dengan administrator. Untuk menggunakan situs web ini, Anda harus menerima kebijakan privasi kami, termasuk kebijakan cookie kami. Masyarakat pesisir di wilayah Bekasi dan Karawang, Jawa Barat, dalam beberapa pekan terakhir terkena dampak paling parah akibat ledakan minyak dan gas milik PT Pertamina. Offshore Energy North West Java (PHE ONWJ) Perairan Karawang, 2019 12 Juli Akibat kejadian ini, mereka tidak bisa mengembangkan kegiatan penangkapan ikannya.

Menurut informasi yang terus berkembang di lapangan, tumpahan minyak saat ini tidak hanya menyebar dari perairan Karawang hingga pantai Muara Gembong di wilayah Bekasi, tetapi juga mencapai perairan Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Tumpahan minyak tersebut disebabkan oleh kebocoran minyak dan gas di sumur OWJ unit YYA-1, yang menyebabkan gas melonjak karena anomali tekanan.

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) yang melakukan observasi langsung di lokasi menemukan, saat ini ada beberapa desa pesisir yang menjadi korban tumpahan minyak dan gas. Diantaranya Desa Camara (Kecamatan Cibuaya), Desa Sungai Buntu (Kecamatan Pedes), Desa Petok Mati (Kecamatan Cilebar), Desa Sedari (Kecamatan Pusaka Jaya), Pantai Pakis (Kecamatan Batu Jaya), Desa Cimalaya (Kec. Cikalong), Ciparege (Kecamatan Tempuran) dan Sumur Tambak (Kecamatan Tirtajaya).

“Pertamina telah meminta masyarakat yang tinggal di sekitar desa-desa ini untuk turun ke laut dan membersihkan sampah di Laut Karawang,” kata Sekretaris Jenderal KIARA Susan Herawati di Jakarta akhir pekan lalu.

Kementerian Esdm Ri

Nelayan menangkap limbah padat B3 yang dibuang ke laut dari sumur minyak milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di perairan Karawang, Jawa Barat pada 2019. Juli. Foto: KIARA/Indonesia

Menurut Susan, sejak 12 Juli 2019 terjadi tumpahan limbah migas, setiap hari nelayan melaut untuk mengumpulkan sampah. Dalam satu hari, sampah yang dikumpulkan oleh seluruh nelayan bisa mencapai 50-60 karung, kemudian langsung diserahkan ke otoritas kontrol untuk pengelolaan sampah.

Sayangnya, Susan menjelaskan, pengumpulan limbah migas itu tidak diketahui oleh para nelayan yang langsung melaut. Padahal Pertamina membayar nelayan setelah pekerjaan selesai. Akibatnya, para nelayan yang melaut tidak sadar akan bahaya limbah B3 yang mereka kumpulkan dan buang ke laut.

“Setiap warga yang ingin turun ke air dan mengumpulkan tumpahan sampah yang dikumpulkan dalam karung, memiliki target minimal 10 kilogram. Anda akan mendapatkan gaji sebesar Rs 100.000 setelah lulus, ”jelasnya.

Dampak Kenaikan Harga Minyak Bumi Terhadap Ketersediaan Minyak Goreng Sawit Domestik

KIARA yang dilakukan Pertamina merupakan kejahatan yang mengerikan terhadap lingkungan. Pasalnya, perusahaan negara meminta para nelayan yang terjun langsung ke perairan untuk mengumpulkan limbah tanpa memberitahukan dampak buruk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dikandungnya. Tindakan Pertamina diyakini telah mengorbankan nelayan dan masyarakat pesisir.

Menurut Susan, akibat kelalaian anak usaha Pertamina itu, ditemukan ikan dan udang mati di sekitar perairan yang tercemar. Fakta ini menegaskan bahwa limbah minyak dan gas yang dibuang ke perairan tersebut mengandung zat berbahaya dan beracun. Ini menimbulkan ancaman tidak hanya bagi kehidupan laut, tetapi juga bagi seluruh ekosistem laut.

“Ironisnya, nelayan dan masyarakat pesisir yang setiap hari harus melaut untuk mencari ikan, kini harus berhenti karena harus memungut sampah di laut,” ujarnya.

Nelayan pada tahun 2019 menangkap limbah padat B3 yang tumpah dari tumpahan minyak dari sumur lepas pantai milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di perairan Karawang, Jawa Barat pada Juli 2019. Juli. Foto: KIARA/ Indonesia

Penanganan Bahaya Tumpahan Minyak

Selain tidak bisa berenang di laut, kerugian lain yang dialami masyarakat pesisir adalah dampak negatif bagi kesehatan karena telah ikut membersihkan sampah yang dibuang ke laut. Kemudian, kawasan pemukiman masyarakat pesisir yang juga berbatasan dengan lokasi tumpahan minyak, mengeluarkan bau menyengat dari limbah B3 tersebut.

“Harus ada standar pengelolaan yang memadai yang harus diikuti Pertamina untuk mengelola limbah B3 ini. Dan bukannya menempatkan nelayan dalam situasi yang rentan terhadap kesehatannya sendiri”, tegasnya.

Susan menambahkan, karena limbah B3 masuk ke pemukiman warga, kini mulai terganggu kesehatannya. Warga mulai mengeluhkan tangan panas, gejala pusing dan mual. Jika tumpahan minyak dan gas laut tidak segera ditangani, maka ancaman terhadap kesehatan masyarakat akan meningkat.

Memang, seperti yang diketahui Susan dengan baik, akan butuh waktu lama bagi lautan yang tercemar minyak dan gas untuk kembali ke keadaan semula. Kemudian, dalam proses yang panjang ini, masyarakat pesisir juga harus menerima akibat negatif lainnya, yaitu hilangnya mata pencaharian dari laut.

Peran Minyak Bumi Sangat Penting Bagi Kehidupan Sehari Hari Dalam Membangun Perekonomian Masyarakat

“Pertamina harus bertanggung jawab tidak hanya memulihkan pantai dan laut yang rusak, tetapi juga mengizinkan nelayan dan masyarakat laut kembali ke laut,” pungkasnya.

Di sisi lain, Dwi Sawung, ketua kampanye kota dan kepala energi di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), mengatakan, insiden ledakan gas di sumur lepas pantai YYA1, yang termasuk dalam area blok ONWJ, menjelaskan bahwa PHE tidak memiliki kemampuan yang baik untuk mengendalikan nyala api minyak dan, akibatnya, platform YYA pada 17 Juli 2019 miring hingga delapan derajat.

Pada Juli 2019. Di perairan Karawang, Jawa Barat, nelayan menangkap tumpahan limbah padat B3 dari tumpahan minyak dari sumur lepas pantai milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).

Menurut Dwi Sawung, selain para nelayan yang menjadi korban utama tumpahan minyak, pihak yang paling terdampak juga adalah para pembudidaya ikan yang memiliki keramba jaring apung (KJA) atau tambak di sekitar lokasi kejadian. Jika tidak bisa dihentikan, diperkirakan akan terjadi kerugian ekologis dan ekonomi serta proses pemulihannya akan memakan waktu lama.

Sma Kelas 11

“Ribuan nelayan terpaksa berhenti melaut dan akibatnya pendapatan mereka berkurang hingga tidak ada. Banyak ikan dan udang yang mati karena tumpahan minyak yang mencemari air laut,” katanya.

Banyak ikan dan biota laut lainnya mati ketika limbah minyak tumpah ke laut, sehingga ikan yang ditangkap oleh nelayan mungkin juga mengandung limbah yang terkontaminasi. Oleh karena itu, warga yang terbiasa membeli ikan dari wilayah pesisir yang tercemar disarankan untuk tidak membeli ikan hasil tangkapan nelayan setempat.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Dwi Sawung mengatakan Pertamina harus mampu mengkompensasi dampak yang diderita warga sekitar pencemaran. Selain itu, jika Pertamina setuju, mereka juga harus bertanggung jawab atas semua kerugian, kerusakan lingkungan, upaya pemulihan sepenuhnya.

Pada Juli 2019. Tumpukan kantong berisi limbah B3 dari tumpahan minyak dari sumur minyak lepas pantai milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di perairan Karawang, Jawa Barat.

Tragedi Tumpahan Minyak Pertamina Di Karawang, Horor Bagi Manusia Dan Lingkungan

Tanggung jawab Pertamina atas kejadian tersebut diatur dalam UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup no. 32/2009 pasal 53, Peraturan Pemerintah no. 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut dalam Pasal 15 dan Pasal 16 serta Pasal 11 Peraturan Presiden No. 109/2006, tentang pengurangan tumpahan hidrokarbon di laut.

Sementara itu, Kepala Divisi Pesisir dan Kelautan Indonesia Center for Environmental Law (ICEL) Ohiongyi Marino mengatakan Pertamina harus disalahkan atas insiden tersebut karena gagal memperingatkan masyarakat pesisir di Karawang untuk menghindari area tumpahan minyak. Padahal, peringatan tersebut merupakan arahan dari UU 32/2009 PPLH.

Menurut pasal 53 UU 32/2009, Pertamina wajib mengisolasi wilayah, menghentikan sumber pencemaran,

Dampak limbah terhadap lingkungan, dampak polusi terhadap lingkungan, dampak pestisida terhadap lingkungan, dampak gempa bumi terhadap lingkungan, dampak pencemaran terhadap lingkungan, dampak negatif terhadap lingkungan, dampak penggunaan minyak bumi terhadap lingkungan, dampak sampah terhadap lingkungan, dampak korupsi terhadap lingkungan, dampak negatif minyak bumi terhadap lingkungan, dampak pembakaran minyak bumi terhadap lingkungan, dampak lingkungan terhadap kesehatan